Artikel

Siapa Game Changer 2024 Kota Bekasi?

Rahmat Effendi-Syaikhu
Rahmat Effendi-Syaikhu
Rahmat Effendi-Syaikhu

Rahmat Effendi-Syaikhu

Hampir 15 tahun Rahmat Effendi menjejakkan kekuasaannya di lembaga eksekutif, Pemerintah Kota Bekasi. Lima tahun pertama ia lalui sebagai Wakil Wali Kota Bekasi. Ternyata, ia tak tuntas menghabiskan masa jabatannya sebagai Wakil Wali Kota Bekasi mendampingi Wali Kota Mochtar Mohammad. Sekitar satu setengah tahun sisa masa jabatannya, ia didaulat menjadi Wali Kota Bekasi menggantikan Mochtar Mohammad yang harus menjadi pesakitan karena kasus korupsi.

Perjalanan politik Rahmat Effendi terbilang mulus meski merintis dari bawah. Ia tidak mewarisi dinasti politik mana pun di Bekasi. Justru Rahmat Effendi mendirikan dinasti politik baru di Kota Bekasi. Memulai karir sebagai pengurus kecamatan Partai Golkar, hingga terpilih menjadi anggota DPRD Kota Bekasi. Jalan terang karir politiknya terlihat ketika ia sukses menjadi Ketua DPRD Kota Bekasi. Ia berhasil mengalahkan Calon Ketua DPRD Kota Bekasi dari PKS, Ahmad Syaikhu. Melalui “Ancol Move”, Rahmat Effendi berhasil menumbangkan Ahmad Syaikhu dalam pemilihan Ketua DPRD Kota Bekasi tahun 2004.

Memasuki periode kedua memimpin balai kota, Rahmat Effendi menjadi pemain utama politik Kota Bekasi. Meski partainya bukan pemenang di parlemen, Rahmat Effendi tetap menjadi episentrum politik Kota Bekasi. Dalam rentang 13 tahun berkuasa di lembaga eksekutif, pria yang biasa dipanggil Pepen itu makin digdaya di bumi Patriot. Satu persatu elit politik di Kota Bekasi berhasil ia taklukkan. Ia menjadi penentu utama konstelasi politik Kota Bekasi.

Ini jejak kehandalan politik Rahmat Effendi dalam mengendalikan semua kekuatan politik di Kota Bekasi. Pada Pemilukada 2013, Rahmat Effendi tidak sekuat kontestasi politik lokal 2018. Apalagi bicara mesin politik, partai tempat ia bernaung tidak sekuat PKS yang dikenal memiliki kader super fanatik.

Rahmat Effendi tidak begitu yakin betul bisa mengalahkan PKS pada Pemilukada 2013. Apalagi PKS bisa menggandeng partai berbasis Islam tradisionalis yang selama ini menjadi titik lemah partai dakwah tersebut. Kombinasi tokoh putra daerah dan berasal dari partai Islam tradisionalis tentu akan merepotkan gerak langkah politik Rahmat Effendi. Namun itu semua bisa dipatahkan oleh Rahmat Effendi dengan menundukkan PKS menjadi pendampingnya. Dan terang saja, Rahmat Effendi memenangkan Pemilukada 2013 dengan mudah yang didukung mesin politik PKS.

Pada Pemilukada terakhir, Rahmat Effendi tidak begitu khawatir untuk bisa memenangkan pertarungan. Pasalnya, calon lawan terkuatnya, Ahmad Syaikhu yang juga Wakil Wali Kota Bekasi menjadi Calon Wakil Gubernur Jawa Barat. Dengan leluasa Rahmat Effendi menentukan landscape Pemilukada Kota Bekasi 2018.

Awalnya, masih ada keinginan Rahmat Effendi untuk melanjutkan perkawinan politik 2013 dengan PKS. Kesepakatan pun tercapai antara PKS dan Rahmat Effendi untuk tetap bersama pada Pemilukada 2018. Kesepakatan antara Rahmat Effendi dengan PKS langsung disosialisasikan dihadapan elit kedua partai dan para birokrasi. Takbir pun berkumandang pertanda dukungan bulat untuk memenangkan Rahmat Effendi dengan tokoh PKS.

Namun dimenit-menit akhir pendaftaran calon, Rahmat Effendi memilih memutus secara sepihak kesepakatan politik dengan PKS. Rahmat Effendi berbalik hati ke anak buahnya di birokrasi Pemerintah Kota Bekasi. Mantan Ketua DPRD Kota Bekasi itu memilih Tri Adhianto sebagai pasangannya di Pemilukada 2018. Sebelumnya Tri Adhianto menjabat sebagai Kepala Dinas Binamarga dan Sumber Daya Air.

Perubahan tetiba Rahmat Effendi itu membuat PKS berada pada pilihan terbatas. Selepas Ahmad Syaikhu menjadi Calon Wakil Gubernur Jawa Barat tidak banyak pilihan bagi PKS Kota Bekasi untuk bisa memenangkan pertarungan kursi balai kota. Seandainya Ahmad Syaikhu dipasang melawan Rahmat Effendi, masih ada peluang bagi PKS untuk menang. Mengingat kedua tokoh itu memiliki popularitas yang sama.

Dengan stok kader seadanya, PKS mengusung Nur Supriyanto sebagai penantang Rahmat Effendi. Pemilukada belum berlangsung banyak analis sudah berada pada kesimpulan jika Rahmat Effendi-Tri Adhianto yang akan memenangkan pertarungan. Terbukti, tak sulit bagi Rahmat Effendi untuk mengalahkan PKS di pertarungan kursi eksekutif.

Cerita politik PDIP Kota Bekasi sungguh tragis pada Pemilukada 2018. Sebagai pemenang Pemilu di Kota Bekasi, PDIP tidak bisa berbuat banyak pada kontestasi pemilihan pimpinan daerah. Hingga penutupan masa pendaftaran calon kepala daerah, PDIP tak kunjung membawa nama calonnya ke meja KPUD.

Selain persoalan internal PDIP Kota Bekasi yang gagal menyiapkan kandidat Pemilukada 2013. Manuver politik Rahmat Effendi sukses mengunci gerakan banteng moncong putih. Bila PKS mati langkah, diakhir masa pendaftaran, PDIP Kota Bekasi tidak bisa bergerak.

Kemenangan Rahmat Effendi pada Pemilukaa 2018 makin mengokohkan taring politiknya di semua aspek. Ia sudah menaklukkan Kota Bekasi sebagai medan tempur politik. Semua kekuatan politik di kota ini sudah dalam kontrolnya. Apa pun yang menjadi keputusan politik strategis di Kota Bekasi wajib menyertakan restu Rahmat Effendi. Inilah puncak masa kejayaan politik Rahmat Effendi.

Karena ia sudah menjabat dua periode dan sesuai dengan amanat konstitusi kepala daerah hanya boleh menjabat jabatan yang sama selama dua periode. Langkah politik selanjutnya Rahmat Effendi menyiapkan suksesor. Ia menyiapkan putri mahkota, Ade Puspita Sari, yang juga anak sulungnya. Karpet merah politik pun disiapkan untuk Ade Puspita Sari, Anggota DPRD Jawa Barat dan Ketua Partai Golkar Kota Bekasi.

Masa kejayaan seringkali melenakan. Tak jarang membuat mereka melayang-layang disaat sedang berada di puncak kekuasaan. Operasi tangkap tangan KPK kepada Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi meruntuhkan bangunan politik yang dibangunnya. KPK menjadi game changer untuk kedigdayaan politik Rahmat Effendi. Seketika benteng pertahanan politik Rahmat Effendi ambyar. Tentu ini diluar dugaan banyak orang.

Selepas Rahmat Effendi berseragam orange, arena politik Kota Bekasi kembali mendatar. Tidak ada lagi kekuatan politik yang dominan. Sebelumnya Rahmat Effendi kokoh sebagai determinator. Lawan-lawan politik Rahmat Effendi berpikir ulang untuk melawannya pada Pemilukada 2024. Bagi yang pesimis sudah mencari cara untuk bisa berdampingan dengan putri mahkota. Karena dianggap memiliki peluang paling besar untuk menang.

Seketika KPK merubah semuanya. Memberi peluang yang sama kepada semua entitas politik di Kota Bekasi.

Menarik untuk memperbincangkan selepas Rahmat Effendi meninggalkan arena politik Kota Bekasi. Lebih tepatnya, seperti apa pertarungan Pemilukada 2024? Siapa yang akan menjadi game changer dalam kocok ulang elit baru politik Kota Bekasi selepas Rahmat Effendi? Konfigurasi elit baru politik Kota Bekasi ditentukan oleh siapa penguasa di DPRD dan paling menentukan siapa pemenang Pemilukada 2024.

Ada dua game changer yang memiliki potensi besar pada Pemilukada 2024. Game changer Pertama, Ahmad Syaikhu. Mantan Wakil Wali Kota Bekasi itu memiliki reputasi politik yang cukup kuat. Dari beberapa hasil survei, Ahmad Syaikhu masih menjadi tokoh kunci pada Pemilukada Kota Bekasi. Namun apa mungkin Presiden PKS itu turun gunung ke arena Pemilukada? Ada banyak alasan logis bagi PKS untuk mengembalikan Ahmad Syaikhu ke arena Pemilukada Kota Bekasi.

Alasan pertama, Nama Ahmad Syaikhu tidak masuk tokoh PKS yang akan dijual partai tersebut sebagai bakal calon presiden. Majelis Syuro PKS sudah memutuskan satu nama yaitu Salim Segaf Al Jufri. Gerakan memasarkan Salim Segaf Al Jufri sudah massif dilakukan oleh semua level struktur PKS. Foto dan nama Salim Segaf Al Jufri selalu menghiasi setiap publikasi PKS.

Alasan kedua, sulit bagi PKS untuk bisa memasukkan nama Salim Segaf Al Jufri dalam bursa calon presiden 2024. Meski sudah dipromosikan popularitas Salim Segaf Al Jufri tak kunjung masuk radar lembaga survey mana pun meski diangka satu persen. Artinya, PKS akan kembali sebagai penggembira pada Pilpres 2024 mengingat partai dakwah ini tidak memiliki tiket untuk mengusung sendiri calon presiden.

Apabila calon presiden yang didukung PKS menang, partai ini akan mendapat jatah Menteri. Bagimana peluang Ahmad Syaikhu menjadi Menteri? Ahamd Syaikhu memiliki peluang besar masuk kabinet. Dengan demikian, Ahmad Syaikhu menjadi game changer di Kota Bekasi akan tertutup. Tetapi perlu diingat, untuk masuk kabinet dari PKS tak lepas peran tunggal Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Al Jufri. Dalam mengambil keputusan Salim Segaf Al Jufri tergolong rasional dan realis. Kursi menteri bagi pemenang Pilpres merupakan jabatan given. Jabatan menteri merupakan ghonimah usai memenangkan pertempuran Pilpres 2024. Tak perlu biaya kontestasi untuk mendapatkannya.

Selain faktor Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Al Jufri dalam penentuan menteri, minat dan kriteria presiden dalam memilih menterinya juga turut memengaruhi masuk tidaknya Ahmad Syaikhu dalam kabinet.

Bila ada peluang untuk mendapatkan jabatan publik dengan cost yang rendah, opportunity ini akan diambil oleh siapa pun. Dalam konteks Pemilukada, PKS akan memilih peluang besar untuk menjadi penguasa di Kota Bekasi. Bagi PKS mendapatkan kursi kepala daerah yang sulit namun jika sudah memenanginya, menjaga sustainability kekuasaan, tak sulit bagi PKS. Di Depok dan Sumatra Barat PKS mencatatkan hattrick Pemilukada. Dengan beberapa asumsi tersebut, Ahmad Syaikhu memiliki potensi besar sebagai game changer 2024 Kota Bekasi.

Alasan Ketiga, PKS sudah pernah mempraktikkan mantan presiden partai yang juga mantan Menteri turun dalam laga perebutan kursi wali kota. Kala itu mantan Presiden PKS Nurmahmudi Ismail menjadi game changer politik di Kota Depok.

Game changer kedua, Tokoh muda. Populasi terbesar Kota Bekasi berdasarkan segmen demografi adalah kelompok muda yang biasa disebut dengan generasi milenial dan gen Z. Generasi ini speaker utama dalam percakapan di media sosial. Sejauh ini generasi tersebut belum digarap secara serius oleh entitas politik di Kota Bekasi. Yang ada baru sekadar gimmick politik. Padahal generasi ini tidak membutuhkan gimmick yang kadang malah memunculkan tidak simpati dari kelompok tersebut.

Merebut hati generasi milenial dan gen Z bukan mengkampanyekan diri paling milenial. Yang milenial dan gen Z butuhkan adalah suara yang mewakili zaman mereka. Menjadi juru bicara generasi milenial dan gen Z. Konten yang ditawarkan jauh lebih penting bagi mereka. Dan yang tak kalah penting selain tampil di berbagai platform media sosial, sebuah gerakan yang membuat mereka simpati bahkan tergerak untuk ikut terlibat didalamnya.

Belajar dari Kota Bandung, Ridwan Kamil menjadi game changer dinasti Dada Rosada. Aktivisme kerelawanan menjadi daya dongkrak Ridwan Kamil untuk bisa mengalahkan suksesor Wali Kota Dada Rosada. Aktivisme kerelawanan menjadi magnet dalam menggaet generasi milenial dan gen Z. Media sosial hanya menjadi medium untuk meningkatkan awareness dan brand equity.

Game changer 2024 akan membentuk jalan baru peta elit di Kota Bekasi. Pada saat yang sama game changer 2024 akan menjadi penyebab berakhirnya semua aktor pelanjut kekuasaan Rahmat Effendi. Bagaimana dengan Plt Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, tunggu ulasan berikutnya. (Tim Litbang www.infobekasi.co)

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Artikel