Sabtu, Juni 22, 2024
More
    BerandaArtikelPeradaban Minyak Tanah

    Peradaban Minyak Tanah

    Info Bekasi -

    Lampu Camporong
    Lampu Camporong

    Generasi Z tak sempat merasai bagaimana bau minyak tanah. Sebagai generasi yang lahir di era peralihan dari generasi X ke generasi milenial aku merasa beruntung bisa merasakan apa yang sebagian dialami oleh kedua generasi ini. Sebagian ahli menamai generasi kami sebagai generasi milenial tua. Sebutan yang cukup sopan, padahal bisa saja menyebut generasi ‘amfibi’.

    Sebagai generasi yang lahir di tahun 80 yang berasal dari daerah, terutama di luar Pulau Jawa, masa lahir kami belum disambut penerangan listrik. Di masa itu kampung kami masih menggunakan lampu petromak, penggunanya sudah hebat, termasuk dalam kategori ekonomi sejahtera. Yang memiliki taraf ekonomi lebih bawah biasanya hanya pakai lampu dinding atau camporong. Bahan bakar untuk menghidupi apinya dari minyak tanah.

    Satu rumah bisa memiliki lebih dari 3 lampu camporong. Biasanya di depan pintu rumah terpasang satu yang berfungsi sebagai lampu penerangan di halaman. Ruang tamu, kamar tidur dan dapur juga tersedia. Warga yang ekonominya lemah, biasanya di dapur tidak ada, kalau hendak ke dapur tinggal membawa lampu yang dari ruang yang gak dipakai.

    Sewaktu kecil, salah satu tugas rutin saya membersihkan kaca lampu camporong. Karena sudah jadi tugas rutin, aku sudah memiliki perangkat peralatan pembersih lampu camporong, kain bekas daster ibu. Setiap sore selesai bermain, jelang bunyi bedug Magrib, aku sudah siap-siap mengisi minyak lampu camporong yang kosong.

    Ketika listrik mulai nyetrum di kampungku, lampu camporong perlahan mulai ditinggalkan. Camporong tetap digunakan mereka yang tidak bisa bayar listrik atau digunakan bila listrik mati. Fungsi camporong sebagai cadangan atau emergensi bila sewaktu-waktu listrik mati. Masa itu listrik mesti mati satu atau dua kali dalam seminggu.

    Bahan bakar yang digunakan untuk menyalakan lampu camporong minyak tanah. Keberadaan minyak tanah sangat berarti saat itu. Tak hanya untuk menerangi dikala malam hari. Minyak tanah juga digunakan untuk menyalakan kompor untuk mereka yang ekonominya lebih baik. Di masa itu, masyarkat di kampungku umumnya menggunakan kayu untuk memasak. Kayu banyak tersedia di kebon. Tidak perlu membayar untuk bahan bakar memasak.

    Sebagai anak tertua, lelaki pula, aku biasa disuruh membeli minyak tanah ke warung. Jadi paham betul kapan persediaan habis di rumah atau ketersediaan stock minyak tanah di warung. Waktu pengiriman minyak ke warung biasanya setiap hari Sabtu. Pemindahan minyak dari truk tangki ke tong menjadi tontonan anak-anak kala itu.

    Alat ukur penjulan yang dipakai bukan liter tetapi bekas botol sirup merek kurnia. Satu botol dihargai Rp. 100. Pemilik warung juga menjual minyak setengan botol. Karena banyak warga yang hanya mampu membeli setengah botol.

    Pembelian setengah botol itu biasanya digunakan untuk lampu camporong ukuran kecil. Lampu itu menerangi satu rumah panggung yang tak memiliki ruang tamu, kamar tidur apalagi ruang makan. Rumah hanya persegi empat yang terbuat dari anyaman bambu. Biasanya dapur di luar rumah. Kamar mandi tidak ada, komunal menggunakan tempat pemandian umum.

    Bukan hanya bahan bakar penerangan di malam hari, minyak tanah juga jadi obat. Bila kami sakit mata, demam dan batuk, biasanya oppung (Nenek) mengambil minyak tanah dari lampu camporong yang sedang menyala. Minyak tersebut dioleskan ke tenggorokan dan leher sembari dipijitin. Karena diambil dari lampu yang sedang menyala, minyak masih terasa panas di tenggorokan.

    Minyak tanah juga dipercaya bisa mengobati tetanus. Caranya, kertas disirami minyak tanah lalu dibakar. Kertas yang masih berlumuran minyak tanah dan api menyala dipukul ke anggota tubuh yang luka. Kertas menyala dipukul 5 sampai 7 kali ke kaki yang terluka. Sesudah minyak tanah dari kertas menempel ke kaki baru dihentikan.

    Berdasarkan pengalamanku sendiri, minyak tanah ini cukup efektif mengobati batuk dan sakit mata. Semasa kecil bila batuk aku jarang minum obat sirup, cukup diolesin minyak tanah lampu camporong.

    Untuk mencegah luka parah atau tetanus, minyak tanah cukup manjur terutama yang diakibatkan luka beling. Bila menginjak paku karatan, biasanya luka cukup dipukul kertas yang dibakar dengan minyak tanah. Selama dilakukan sesegera mungkin lukanya akan cepat sembuh.

    Sejak kebijakan konversi minyak tanah ke elpiji diberlakukan (tahun 2007) maka bau khas minyak tanah menghilang bak ditelan bumi. Disaat bersamaan pemerintah juga menghilangkan peradaban minyak tanah yang tak sekadar berfungsi bahan bakar itu.

    Dari cerita minyak tanah dan elpiji ini, kita paham bila arah peradaban ditentukan oleh mereka pemegang kuasa. Alasan mudah dihadirkan untuk membenarkan sebuah kebijakan. Seperti halnya dahulu ketika mereka menghapus minyak tanah ke elpiji. Kata bapak-bapak itu minyak tanah kotor. Elpiji lebih ramah lingkungan dan bersih. Sekarang ketika mereka mau menarik elpiji dari pasar menggantinya dengan listrik, alasannya juga sama, energi listrik lebih go green. Apa iya?

    BACA JUGA

    IKUTI KAMI

    7,300FansSuka
    403,000PengikutMengikuti
    5,200PengikutMengikuti
    512PengikutMengikuti
    4,200PelangganBerlangganan

    TERBARU