test
Jumat, Juni 21, 2024
More
    BerandaArtikelPemikiran Politik Anis Matta Dalam Buku Melawan Layu

    Pemikiran Politik Anis Matta Dalam Buku Melawan Layu

    Info Bekasi -

    Penulis:

    Gili Argenti  (Pegiat Literasi Dan Pengamat Politik)

    Anis Matta dalam panggung politik nasional sebuah nama familiar, seorang politisi muslim yang memiliki dua talenta, seorang penulis produktif dan orator politik mampu memukau publik dengan retorikanya. Kemampuan menulis dan berorasi menjadi salah satu indikator tokoh ini lekat dengan tradisi literasi, sehingga mampu menguraikan pemikiran filosofis lewat kata dan tulisan yang mudah dipahami pendengar dan pembaca karyanya.

    Tulisan pendek ini membedah pemikiran politik Anis Matta melalui satu karya terbarunya berjudul Melawan Layu Biar Kuncup Indonesia Bersemi Denganmu, Penerbit Poestaka Rembug Kopi. Kenapa penulis menggunakan satu karya membedah pemikiran seorang Anis Matta, padahal karya tulisnya sangat banyak, tercatat terdapat dua puluh tiga buku karya Anis Matta tersimpan di rak buku perpusatakaan pribadi penulis, tentunya jumlah tersebut sifatnya masih sementara, masih ada beberapa buku Anis Matta yang belum berhasil penulis dapatkan.

    Terdapat dua alasan buku Melawan Layu menjadi referensi dalam membedah pemikiran politik Anis Matta dalam artikel ini.

    Pertama, buku Melawan Layu mengurai pandangan politik seorang Anis Matta secara jelas, bahkan menjadi karya menunjukan positioning politik Anis Matta ditengah dialektika pertarungan ideologi di Indonesia. Memang terdapat tiga buku Anis Matta terbit sebelumnya, yaitu (1) Gelora Muda Anak Bangsa : Pondasi Arah Baru Indonesia, (2) Haji Catatan dan Refleksi, dan (3) Pesan Islam Menghadapai Krisis.  Tetapi ketiga buku itu belum secara terang benerang menarasikan posisi dan sikap politik seorang Anis Matta, ketika melihat berbagai fenomena politik global dan nasional, ketiga buku tersebut bercorak perenungan diri yang bersifat teologis, menggali teks-teks keislaman dalam melakukan pembacaan atas situasi kondisi kekinian, terutama bagaimana mensikapi krisis ketidakpastian Pandemi Covid-19.

    Kedua, buku Melawan Layu terbit menjelang tahun politik (Pemilu 2024), momentum menerbitkan karya tulis menjelang perhelatan akbar pesta demokrasi, tentunya mengundang asumsi publik, bahwa buku ini bagian dari rangkaian mewartakan pemikiran Anis Matta ke khalayak luas, tentu langkah ini sah-sah saja dilakukan dalam atmosfer demokrasi, terlebih dunia politik sejatinya industri pemikiran, menjadi suatu keharusan setiap politisi menyampaikan pemikiran politiknya ke masyarakat, sehingga kita bisa memahami, mengkritisi, dan menguji setiap gagasan politik yang ditawarkan.

       Pemikir Nasioalis

    Anis Matta dalam Buku Melawan Layu menjelaskan pembelahan politik warisan Pemilu 2014 dan Pemilu 2019 seharusnya diakhiri, menurutnya membangun jembatan bukan mendirikan tembok merupakan pilihan realistis dan logis dalam berpolitik.

    Pemilu memang arena kontestasi politik sangat keras, setiap partai politik dan kandidat secara bersamaan menyampaikan retorika politik untuk memenuhi ruang-ruang publik, mereka berlomba-lomba menginjeksi kognitif para pemilih, dengan tujuan mengakumulasi dukungan di bilik suara. Tetapi setelah kontestasi politik selesai, maka tugas utama masyarakat bersama-sama mengawasi kinerja pemerintah (legislatif dan eksekutif). Menjadi kurang relevan bila kita masih melakukan dikotomi politik, antara kelompok kita dan kelompok mereka di saat pesta demokrasi itu telah usai, serta pemerintahan baru telah terbentuk.

    Anis Matta mengajurkan kita kembali mengaktifkan akal kolektif, dengan melakukan pembacaan ulang atas perjalanan sejarah bangsa. Menurutnya bangsa Indonesia harus menjadikan Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda sebagai jati diri bersama. Kedua sumpah itu mengingatkan kita sebagai satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air.

    Sumpah Palapa (Kerajaan Majapahit) mampu menyatukan nusantara, bahkan sebagian wilayah Asia Tenggara tunduk dibawah satu bendera gula kelapa, hal ini menjadi bukti historis, kejayaaan nusantara pernah mencapai puncak tertinggi peradaban. Sedangkan sumpah pemuda mampu mengikat keragaman bangsa menjadi satu entitas bernama Indonesia. Perbedaan agama, suku, etnik, bahasa, dan budaya melebur dalam satu cita-cita besar bersama, yaitu mendirikan sebuah negara merdeka.

    Kedua sumpah ini menurut Anis Matta menjadi modal besar untuk mempererat persaudaraan serta persatuan semua komponen bangsa. Anis Matta menggali spirit kebersamaan dan persaudaraan bersumber langsung dari jejak generasi pendahulu, tujuannya agar generasi penerus tidak berjarak dengan identitas bangsanya.

     Pemikir Geopolitik

    Pemikiran politik Anis Matta senantiasa memiliki dimensi geopolitik, menurutnya entitas suatu negara tidak bisa lepas dari situasi global menyertainya. Hampir semua peristiwa besar di negara-negara maju berdampak langsung terhadap nasib negara lain. Misalnya revolusi industri di Inggris  antara tahun 1760-1850, ternyata memiliki dampak kemanusian tidak saja di negara barat, dengan terjadinya polarisasi kelas sosial antara kelas borjuis dan kelas ploletar, tetapi berakibat munculnya kolonialisme dan imperialisme dunia barat atas dunia timur. Kawasan Asia-Afrika yang memiliki sumber daya alam kaya raya, mengalami penghisapan luar biasa, terjadilah penjajahan berabad-abad lamanya.

    Contoh selanjutnya, ketika perang dunia kedua pecah di wilayah pasifik antara Jepang dengan Amerika Serikat, hampir semua negara Asia menerima dampaknya, menjadi jajahan Jepang, negara matahari terbit ini mencari sumber daya alam serta sumber daya manusia untuk dieksploitasi dan dimobilisasi buat kepentingan perang.

    Maksud Anis Matta menjelaskan dampak geopolitik, tentunya bukan menjustifikasi superioritas dunia barat atas dunia timur, atau negara maju pada negara berkembang, tetapi bagaimana dunia timur terutama Indonesia tidak menjadi objek dari setiap peristiwa besar dunia, tetapi memainkan peran sebagai subjek, memberikan kontribusi nyata buat kemanusiaan, kesetaraan, dan kesejahteraan  antar bangsa. Tentunya untuk menjadi subjek geopolitik harus ditopang oleh kekuataan ekonomi, teknologi, dan militer. Ketiga hal ini mutlak harus dimiliki sebuah negara agar mampu membawa arah baru tatanan global, ketika berhadapan dengan negara-negara kuat dalam kancah dunia.

    Keterhubungan antar sistem politik ini, sesuai dengan teori politik dijelaskan David Easton (1984), bahwa sistem politik sebuah negara seperti organisme mahluk hidup, mereka melakukan interaksi saling mempengaruhi satu sama lain, sistem politik lebih kuat cenderung melakukan tekanan terhadap sistem politik lemah. Artinya lingkungan eksternal (internasional) mampu mempengaruhi lingkungan internal (domestik) atau sebaliknya. Sistem politik bila ingin mengimbangi tekanan lingkungan eksternal menurut David Easton, harus memiliki kekuatan terkonsolidasi sistemik dari dalam, salah satu cara memperkuat sistem politik internal tersebut melakukan perubahan dan adapatasi, mempersiapkan kesiapan diri untuk kontestasi secara global.

    Pemikiran Anis Matta tentang geopolitik sebenarnya  sangat dipengaruhi nilai-nilai Islam, hal ini tidak aneh, sebab sosoknya lekat dengan pergerakan Islam. Terlebih bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa religius, pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Dalam setiap analisisnya Anis Matta selalu menjadikan Islam sebagai referensi, dalam buku Menolak Layu misalnya ia memberi alasan kenapa pemikiran politiknya tidak lepas dari kaca mata geopolitik, sebab ketika Islam turun di Kota Mekah, setting  politiknya berada dipusaran dua peradaban besar, yaitu Persia dan Romawi Timur.

    Dakwah Islam dihadapkan pada dua imperium besar tersebut, maka Nabi Muhammad SAW ketika berdakwah tidak lepas dari analisis geopolitik, salah satu contohnya beliau mengirimkan delegasi dakwah ke berbagai negeri untuk menyampaikan risalah Islam. Artinya menjadikan geopolitik sebagai kaca mata dalam mengurai persoalan-persoalan politik domestik sudah dicontohkan Islam berabad-abad lalu.

     Mendesain Sistem Kepartaian Dan Pemilu

    Pemikiran Anis Matta tentang partai politik, sistem kepartaian, dan pemilu menarik kita simak, menawarkan gagasan untuk mendesain sistem politik baru di Indonesia.

    Pertama, mengusulkan pemisahan pemilu legislatif dan pemilihan presiden dengan alasan beban penyelenggara tidak menumpuk dalam satu waktu, serta presentase perolehan suara partai politik di pemilu sebelumnya, tidak menjadi syarat ambang batas (presidential threshold) dalam mengusung capres-cawapres di pemilu berikutnya, sebab tingkat representasi politik dipastikan sudah berubah, mengalami dinamisasi dalam rentang lima tahun atau satu periode kekuasaan. Kedua, menghilangkan presidential threshold (PT), keberadaan PT membatasi proses regenerasi kepemimpinan, karena menghambat kemunculan calon-calon pemimpin baru, alternatif pilihan masyarakat dalam pilpres menjadi terbatas. Ketiga, menghilangkan fraksi di parlemen, tujuannya supaya wakil rakyat lebih leluasa memperjuangkan aspirasi masyarakat, sehingga tidak dibayang-bayangi loyalitas ganda antara mematuhi keputusan partai atau mengakomodir aspirasi dari konstituen. Tawaran-tawaran politik Anis Matta ini menarik didiskusikan, terutama usulan kembali memisahkan antara pemilu legislatif dengan pemilu eksekutif.

    Keputusan mempersatukan dua pemilu dalam satu waktu, awalnya memiliki tujuan memperkuat sistem presidensil, agar pemerintahan tidak terbelah, berkaca dari hasil Pemilu 2004, dimana partainya presiden terpilih  merupakan partai politik minoritas di DPR. Dampaknya dalam penyusunan kabinet harus mengakomodir kekuatan partai politik diparlemen, sehingga komposisi kabinet jauh dari zaken kebinet, penempatan seseorang di dalam kabinet dari unsur partai politik biasanya berdasarkan petimbangan akomodasi dan keterwakilan politik.

    Penyatuan pemilu antara legislatif dan eksekutif, memiliki harapan partainya presiden terpilih berasal dari partai politik meraih kursi terbanyak diparlemen. Harapan dari desain pemilu itu, memang berhasil menempatkan presiden terpilih dari partai politik peraih kursi terbanyak legislatif tahun 2019, tetapi persentase kursinya masih jauh dari 50%+1, artinya penyusunan kabinet masih bernuasa kompromi politik, tujuan dari penyatuan pemilu ini belum maksimal terpenuhi. Ketidakmaksimalan tujuan dari penyatuan pemilu, sepertinya menjadi celah aspirasi untuk mengembalikan kontestasi politik ke dalam dua tahapan pemilu terpisah.

    Penyebab belum terkonsolidasinya suara partai mencapai mayoritas mutlak diparlemen, karena sistem kepartaian kita multi partai ekstrem, sehingga perolehan suara partai-partai dipastikan terfragmentasi. Menghindari dari sistem multi partai sulit dalam konstruksi politik kita, masyarakat Indonesia sangat pluralistik, konsekuensi memiliki tingkat keragaman tinggi, otomatis membutuhkan banyak wadah aspirasi bernama partai politik.

    Desain pemilu serentak yang mendekati ideal menurut penulis sendiri, memisahkan antara pemilu serentak nasional dengan pemilu serentak lokal. Pemilu serentak nasional maksudnya menyatukan pemilu presiden-wakil presiden, DPD, dan DPR RI. Sedangkan pemilu serentak lokal menyatukan pemilu kepada daerah-wakil kepada daerah (provinsi, kabupaten, kota) dengan DPRD (provinsi, kabupaten, kota). Tujuan dari pemisahan agar isu-isu kedaerahan tidak termarjinalkan isu kandidasi presiden-wakil presiden, serta masyarakat bisa memberikan reward dan punishment atas kinerja pemerintah pusat yang terpilih sebelumnya, dengan tidak memilih atau memilih kembali partai politik  di pemilu tingkat  lokal, biasanya terdapat jarak dua sampai tiga tahun dari pemilu nasional ke pemilu lokal, sehingga masyarakat diberikan waktu melakukan evaluasi secara kritis atas kinerja partai politik di pemerintah pusat.

    Pemikir Religius Kebangsaan

    Pemikiran kebangsaan dari Anis Mata dalam buku Menolak Layu, bercorak nasionalis religius, banyak mengambil inspirasi pemikiran dari sumber Islam  (Al-Quran), tentu langkah menjadikan Islam sebagai referensi pemikiran menjadi hal realistis, sebab agama ini telah lama menjadi bagian dari Indonesia,  terlebih Islam dalam sejarah politik bengsa terbukti banyak memberikan warna sangat dominan.

    Menurut riset doktoral Kevin W. Fogg di Yale University, menyimpulkan bahwa Islam menjadi spirit perlawanan pejuang revolusi kemerdekaan ketika melawan penjajah, internalisasi Islam disampaikan para ulama kepada para pejuang khususnya laskar-laskar Islam melalui masjid, khotbah Jum’at, dan pengajian.

    Para pejuang kemerdekaan ini sangat menyakini seruan Perang Sabil dari para ulama karismatik, sebagai panggilan suci keagamaan yang harus diikuti, sebagai wujud dari aktualisasi keyakinan sebagai seorang muslim yang taat. Riset ini ini berhasil melacak fakta-fakta historis keterlibatan umat Islam sangat menonjol dalam Revolusi Kemerdekaan, bahkan Kevin W. Fogg berhasil melacak satu karya Manifesto Perang Sabil berjudul “Toentoenan Perang Sabil” karya ulama Medan bernama M. Arsjad Thalib Lubis. Karya kemudian menjadi pegangan para pejuang kemerdekaan di masa Revolusi.

    Pemikiran Anis Matta mengenai kebangsaan, menghendaki partisipasi umat Islam dalam memperkokoh fondasi Pancasila dan Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) sebagai platform bersama anak bangsa, keduanya merupakan ikatan konsensus dimana umat Islam melalui para tokohnya turut berkontribusi merintis dan mewujudkannya, artinya kesepakatan itu harus betul-betul dijaga terus menerus dari oleh satu generasi ke generasi berikutnya.

    Itulah sekelumit pengalaman membaca buku Anis Matta berjudul Melawan Layu Biar Kuncup Indonesia Bersemi Denganmu yang penulis sampaikan dalama artikel ini, tentunya setiap orang akan berbeda-beda menemukan intisasi bacaan, sebab teks tertulis dalam buku menafsirkannya bersifat relatif, tergantung latar pengalaman masing-masing si pembaca, satu pembaca dengan pembaca lain dipastikan bisa berbeda.

    Kita harus mengapresiasi setiap karya tulis, sebab menulis adalah tindakan keberanian kata Pramoedya Ananta Toer, lewat menulis pemikiran seorang tokoh menjadi milik publik, siap dikomentari bahkan dikritisi.

    Sebagai bagian dari masyarakat biasa, penulis menyambut baik kehadiran buku ini, semoga kedepan lebih banyak politisi Indonesia mengeluarkan karya tulisnya, sebagai sumbangsih pemikiran dalam membangun arah demokrasi  Indonesia kedepan.

     

     

    BACA JUGA

    IKUTI KAMI

    7,300FansSuka
    403,000PengikutMengikuti
    5,200PengikutMengikuti
    512PengikutMengikuti
    4,200PelangganBerlangganan

    TERBARU