Minggu, Februari 5, 2023
More
    BerandaArtikelMengenal Fridtjof Nansen, "Orang Gila" Yang Pernah Tinggal di Kutub Utara

    Mengenal Fridtjof Nansen, “Orang Gila” Yang Pernah Tinggal di Kutub Utara

    Info Bekasi -

    Google Doodle pada Selasa (10/10) menampilkan animasi sosok Fridtjof Wedel-Jarlsberg Nansen atau Fridtjof Nansen sedang bermain ski.

    Siapakah dia sehingga bisa jadi inspirasi pembuatan Google Doodle?

    Ia adalah seorang petualang legendaris dunia asal Norwegia. Nansen juga terkenal sebagai perintis penjelajahan medan yang tidak dikenal di dunia.

    Lahir di Oslo, Norwegia pada tahun 1861, Nansen adalah seorang petualang sejak usia muda. Ia belajar bermain ski lintas alam sebanyak 50 mil dalam satu hari dengan persediaan minimal. Sesekali, Nansen mengajak anjingnya dalam bertualang.

    Cintanya pada dunia luar membuat dia belajar zoologi di Royal Frederick University. Ia terkenal sangat brilian dan menjadi akademisi terbaik di bidangnya. Meski demikian, alam bebas adalah hidupnya. Ia tak betah hanya berada di ruangan hingga akhirnya memutuskan untuk kembali berkelana.

    Sepanjang menempuh studi di Bergen pada 1887, Fridtjof Nansen selalu memikirkan proyeknya untuk bisa menyeberangi es di Greenland. Rencananya sungguh berani. Namun bagi banyak orang, itu adalah rencana gila.

    Gilanya lagi, ia memulai perjalanannya dari pantai timur menuju barat. Pantai timur dikenal tak berpenghuni. Area itu terlarang karena sabuk es yang hanyut dan digerakkan oleh arus kutub yang kuat. Kapal dan manusia hilang dicengkeramnya. Gunung es besar melayang-layang, gletser yang menggantung dan bisa patah kapan pun.

    Fridtjof Nansen merencanakan dengan detil perjalanan ini. Setiap gerakan dihitung hati-hati. Ia tahu pasti keberhasilan ekspedisi ini bergantung pada ketekunannya memperhatikan detil terkecil.

    Ekspedisi ini diikuti enam orang. Pada 17 Juli 1888 mereka meninggalkan kapal. Dalam waktu 2-3 jam mereka berpindah ke kapal terbuka. Setelah 12 hari, tak sampai 29 Juli 1888, mereka menginjakkan kaki di darat. Mereka berada hanya 300 mil ke selatan dari tujuan awal mereka.

    Rombongan pimpinan Fridtjof Nansen ini menghadapi angin besar. Saat es mengambang di sekitar mereka, mereka harus menyeret kapal ke atas kepala mereka hingga tiba ke perairan terbuka.

    Perjalanan menyusuri rute selatan berlangsung hingga akhir September. Setelah semua upaya yang bisa dikerahkan di suhu minus 50 derajat dikerahkan, sampailah mereka di pantai barat.

    Fridtjof Nansen di usianya yang masih 27 tahun berhasil memimpin timnya tanpa kecelakaan. Mereka sampai ke tempat di mana tak seorang pun pernah meginjaknya. Tim juga mencatat kondisi meteorologi dan fakta ilmiah penting di sana.

    Mereka harus tinggal di kutub utara selama musim dingin karena harus menunggu kapal. Saat itu dimanfaatkan untuk menumpulkan materi buku yang kelak diberi judul “Eskimo Life” (1891).

    Mei 1889, Fridtjof Nansen dan timnya berhasil kembali ke Norwegia. Ia disambut seperti pahlawan

    BACA JUGA

    IKUTI KAMI

    7,300FansSuka
    403,000PengikutMengikuti
    5,200PengikutMengikuti
    512PengikutMengikuti
    4,200PelangganBerlangganan

    TERBARU