Rabu, Februari 8, 2023
More
    BerandaCatatan BASMemahami Generasi Z

    Memahami Generasi Z

    Info Bekasi -

    MEMAHAMI KARAKTER GENERASI Z

    Bila tidak deteil dan teliti, agak sulit membedakan generasi milenial dengan generasi Z. Ada banyak kemiripan di kedua generasi ini. Dalam beberapa hal ada kesamaan perilaku di kedua generasi ini. Sebab tumbuh kembang kedua generasi ini dipengaruhi revolusi  teknologi informasi. Sedikit banyak perkembangan teknologi informasi turut memengaruhi perilaku dan sikap mental kedua generasi tersebut. Artinya kedua generasi ini amat sangat dekat dengan perkebangan teknologi informasi. Keduanya well informasition and technology.

    Generasi Z lahir antara 1995 dan 2010. Namun ada juga yang mendefenisikan kelahirahan generasi Z antara 1996 hingga 2012. Tak terlalu penting untuk menyoal hal tersebut. Jarak di antara dua pendapat tersebut tidak terlalu jauh. Justru kedua pendapat tersebut saling menguatkan. Ada semacam batas toleransi, plus minus di kisaran tahun tersebut.

    Ketika generasi Z lahir, teknologi informasi, komputer dan internet sedang berkembang dinamis. Era ini menunjukkan adanya perkembangan besar dalam teknologi informasi. Mesin pencari Yahoo mulai beroperasi. Kehadiran Yahoo membawa perubahan cepat di sektor usaha dotcom. Telepon genggam sudah mulai digunakan. Meski masih dikalangan tertentu.

    Generasi ini juga mengalami tiga kali turbelensi global. Tak lama setelah mereka lahir, terjadi krisis ekonomi di Kawasan Asia Pasifik. Masih dengan persoalan yang sama, generasi ini juga mengalami krisis keuangan di tahun 2008. Ketika mereka memasuki masa dewasa, generasi Z menemui dunia sedang mengalami pandemi yang berlangsung cukup lama. Dan ancaman paling mengerikan di depan mata mereka, krisis perubahan iklim. Rangkaian peristiwa dan penemuan besar di era tumbuh kembang generasi Z turut membentuk karakter dan mental mereka.

    Perkembangan teknologi informasi yang menyertai generasi ini, membentuk karakter mereka yang open mind. Cara mereka melihat dunia tidak terbatas pada lingkungan mereka tinggal. Keluarga tidak lagi menjadi satu-satunya referensi mereka dalam mengambil keputusan. Mereka terbuka melihat ragam sudut pandang. Sejak awal generasi Z paham jika dunia terbentuk dengan banyak unit perbedaaan. Generasi Z paham jika dunia penuh berwarna. Atas pemahaman tersebut menjadikan mereka sadar jika ada banyak warna dalam kehidupan ini. Masing-masing entitas memiliki sudut pandang. Perbedaan ini yang mendorong mereka terbuka dengan yang lain. Pemicu cara pandang ini, kemajuan teknologi informasi yang menyediakan kemudahan akses terhadap informasi. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk melihat dunia. Dunia yang saling terkoneksi.

    Kemudahan informasi dan dunia yang terkoneksi membuat arus informasi merata. Tidak ada lagi gap informasi seperti abad sebelumnya. Dunia makin terbuka untuk siapa pun. Akses atas informasi apa pun semua tersedia. Tak heran bila generasi Z lebih inklusif dari pada generasi sebelumnya. Lebih terbuka pada perbedaan (divercity). Perbedaan bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk saling berkolaborasi. Justru dengan kemudahan akses informasi ini generasi Z bisa melakukan interaksi dengan aneka perbedaan. Transaksi ide dan budaya terjadi dengan orang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Inklusivitas terhadap ide dan budaya luar membentuk jiwa mereka yang lebih merdeka. Generasi Z lebih inklusif dalam memilih berbagai tawaran ide dan budaya. Termasuk didalamnya tawaran produk. Mereka tidak fanatik terhadap sebuah produk tertentu. Amat bertolak belakang dengan orang tua mereka yang fanatik terhadap produk tertentu karena hal itu bagian dari ‘warisan’ keluarga mereka. Menjaga tradisi keluarga bagi generasi  X dan baby boomers sebuah keharusan. Sehingga mereka butuh waktu yang panjang untuk bisa menerima tawaran baru diluar tradisi keluarganya.

    Pada sisi yang lain generasi Z tidak loyal pada produk atau merek tertentu. Mereka lebih fungsional dalam memilih sebuah produk. Bila sebuah produk memiliki fitur tambahan yang bisa menunjang gaya hidup mereka maka mereka akan beralih ke produk tersebut. Jangan berharap generasi Z fanatik terhadap sebuah produk. Mereka lebih rasional dalam membeli sebuah produk.

    Dengan kemajuan teknologi informasi yang menyertai tumbuh kembang mereka hingga dewasa maka generasi Z lebih visual. Generasi Z lebih suka panggilan video daripada audio. Lebih senang dengan simbol emoji daripada kata-kata tertulis. Bagi generasi Z, meme merupakan cara mengkomunikasikan ekspresi jiwa mereka. Emoji dan meme sangat  berharga bagi generasi Z. Wajar bila mereka pengguna terbanyak aplikasi pembuat avatar digital atau editor foto dan video.

    Keterbukaan pada gelombang percakapan dunia membuat generasi Z merasa bagian dari masyarakat global. Mereka berinteraksi secara global. Bahkan sejak kecil generasi Z sudah terbiasa dengan budaya di luar lingkungan mereka. Atau kadang generasi Z lebih paham dengan budaya asing ketimbang budaya mereka berasal. Dengan latar tersebut generasi ini lebih realistis melihat dunia. Mereka tidak se-idealis generasi X dan baby boomers.

    Terlahir di abad informasi, generasi Z percaya informasi penting untuk hidupnya. Mereka sadar jika komunikasi penting untuk model dunia yang generasi Z hadapi. Sebelum memutuskan sesuatu mereka melakukan komunikasi dengan komunitasnya. Atau mengumpulkan informasi terlebih dahulu sebelum ambil keputusan. Katakanlah mau memilih hotel di lokasi liburan, generasi Z melakukan komunikasi dengan komunitasnya untuk memastikan pilihannya tidak salah. Konfirmai atas sebuah pilihan penting. Hal tersebut bisa dilakukan dengan komunikasi. Dan penunjangnya adalah kemajuan teknologi komunikasi. Artinya generasi Z paling akrab dengan teknologi informasi, hal ini kemudian berdampak pada perilaku mereka.

    BACA JUGA

    IKUTI KAMI

    7,300FansSuka
    403,000PengikutMengikuti
    5,200PengikutMengikuti
    512PengikutMengikuti
    4,200PelangganBerlangganan

    TERBARU