Sabtu, Januari 28, 2023
More
    BerandaArtikelCara Siasati Kekeringan Ala Warga Bekasi

    Cara Siasati Kekeringan Ala Warga Bekasi

    Info Bekasi -

    Siti Kamsia (45 tahun) baru saja menjemur pakaian di halaman rumahnya di Perumahan Dharmawangsa Residence, Kabupaten Bekasi, Jumat (2/8/2019). Itu adalah jemuran sesi pertama setelah ‘berjuang’ menunggu cucian di mesin selama kurang lebih 2,5 jam.

    Jenis mesin cuci yang ia pakai mengharuskan debit air melimpah. Sementara, pasokan air minim. Jadi, jika air yang dibutuhkan terlalu sedikit, maka mesin cuci tidak akan berfungsi maksimal. Akibatnya seperti yang terjadi di atas. Mau tak mau ia menunggu lebih lama agar cucian bersih sempurna.

    “Sudah mau dua minggu-an begini. Air yang keluar kecil banget karena mungkin di bawah (tanah) kering jadi pompa enggak bisa ngangkat (air),” katanya kepada ayobekasi.net.

    Tak mau lama-lama ‘tersiksa’, Siti pun memutar otak untuk menyiasati hal itu. Ibu tiga anak ini terpaksa membeli air galon isi ulang seharga Rp8000 per galon. Tapi, tidak setiap hari.

    “Bisa tekor kalau tiap hari mah. Beli (air galon isi ulang) kalau pas lagi mau nyuci saja. Selang-seling gitu, hari ini beli, besok enggak, beli lagi besoknya,” ujar Siti.

    Lain lagi yang dilakukan Ahmad Fajri (35 tahun), warga Perumahan Duren Jaya, Bekasi Timur. Karyawan di salah satu perusahaan di Jakarta ini melakukan penghematan air besar-besaran. Seperti contohnya, tidak mandi ke kantor.

    “Sekarang kan banyak dijual tisu basah pengganti air, jadi sementara sering pakai itu dulu. Esensi mandi kan bersihin badan pakai air, ya ini diganti dulu pakai tisu yang kadar airnya banyak,” katanya.

    Ahmad memang hanya menggunakan pompa air dan torent berkapasitas 500 liter yang hanya cukup memenuhi kebutuhan air bersih maksimal dua hari. Belakangan, pompa air tersebut kesulitan memompa air yang berimbas pada kekosongan torent.

    Pernah satu hari, ia kerepotan buang air besar dimana air kran tiba-tiba mati total.  Tak mau terjadi lagi, bapak satu anak ini pun akhirnya belajar melakukan penghematan. Mulai dari jarang mandi tadi sampai meminta istri masak makanan yang simpel.

    “Iya intinya yang enggak bikin cucian piring banyak deh. Pakai air untuk hal yang memang benar-benar dibutuhkan,” ujar Ahmad.

    Sementara, Annisa Rahmi (27 tahun), warga Babelan, Kabupaten Bekasi punya trik tersendiri. Ibu satu anak itu membiasakan diri ‘menabung’ air. Caranya, mengisi bak mandi dan ember yang kosong meski debit air yang keluar sangat sedikit.

    “Pokoknya biar air yang keluar sedikit tetap dibuka dan ditampung. Baru pas malam orang tidur, ngisi torent sampai pagi. Kalau enggak keluar (air) sama sekali, beli galon. Untuk keperluan mandi, masak, sementara ngungsi dulu ke rumah orang tua yang airnya mendingan,” katanya.

    Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi telah mendistribusikan sekitar 120 ribu liter air bersih ke lima desa yang mengalami kekeringan terparah di kawasan ini, Juli lalu. Kelima desa tersebut ialah Desa Ridogalih, Desa Ridomanah, Desa Sirnajati, Desa Cibarusah Kota, dan Desa Nagacita.

    Sumber : ayobekasi.net

    BACA JUGA

    IKUTI KAMI

    7,300FansSuka
    403,000PengikutMengikuti
    5,200PengikutMengikuti
    512PengikutMengikuti
    4,200PelangganBerlangganan

    TERBARU