ArtikelBekasi Kita

Implementasi Karakter Nasionalisme pada Siswa Sekolah Dasar Sebagai Jawaban Penerapan Penilaian Berbasis Survei Karakter

Nasionalisme dapat diterjemahkan sebagai perasaan bangga, perasaan memiliki dan menghargai, perasaan menghormati, dan cakupan perilaku loyalitas individu terhadap negara tempat ia dilahirkan dan tinggal. Wujud nasionalisme tercermin dari perilaku individu dalam  mencintai tanah airnya, melestarikan warisan budaya bangsa, membela, menjaga , dan melindungi tanah airnya dengan segenap jiwa dan raga, mendahulukan kepentingan bangsa , negara, di atas kepentingan pribadi dan golongan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI), nasionalisme adalah paham ( ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa. Jadi setiap orang yang merasa sebagai warganegara, ia diwajibkan mempunyai jiwa nasionalisme, cinta pada negaranya dan membuktikannya dengan perbuatan yang nyata.

Di Indonesia, nasionalisme merupakan paham kebangsaan yang mengajarkan tentang persatuan dan kesatuan bangsa di atas keragaman yang ada seperti keragaman suku, budaya daerah, bahasa, dan agama. Nasionalisme di Indonesia juga bukan ajaran sempit yang mengakibatkan munculnya sikap chauvinism berlebihan dan meninggalkan nilai-nilai budaya lokal (kearifan lokal).  Nasionalisme justru menjadi motivasi yang positif untuk mengembangkan sikap hormat menghormati, menghargai, gotong royong, hidup rukun di tengah perbedaan, membangun kesejahteraan dan keadilan , serta menjalin kerjasama yang solid dengan negara lain.

Pada era reformasi, penerapan nasionalisme mendapat tantangan yang luar biasa berat. Meski bukan lagi berurusan dengan perilaku aggressor negara lain ke wilayah Indonesia, atau berkaitan dengan angkat senjata melawan penjajah, nasionalisme tetap harus mendapat perhatian lebih. Hal ini karena memudarnya nilai-nilai nasionalisme di masyarakat.  Memudarnya nilai-nilai nasionalisme ini ditandai dengan banyaknya narasi, tayangan video di media sosial tentang sentimen yang mengangkat isu SARA. Dalam kehidupan sehari-hari, mudah ditemui generasi muda yang enggan mempelajari budaya daerah seperti alat musik tradisional, tarian atau lagu daerah. Mereka lebih hafal dengan lirik lagu-lagu barat. Tawuran di masyarakat yang memecah belah rasa persatuan, konflik di wilayah-wilayah tertentu yang terimbas karena masalah SARA.

Berangkat dari kenyataan ini, nasionalisme perlu disuarakan kembali untuk menjaga kedaulatan bangsa dan membawa bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik karena jika tidak ada persatuan dan kesatuan  , generasi mendatang akan bersikap apatis terhadap negaranya sendiri. Nasionalis harus dibangun untuk membawa Indonesia menjadi negara berdaulat, menjadi negara maju, menjadi negara yang besar karena perbedaan yang dimilikinya. Strategi yang efisien untuk menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai nasionalisme adalah dengan melibatkan sekolah sebagai lembaga yang dapat mengimplementasikan pendidikan karakter bagi peserta didiknya ,agar menguatkan kembali nasionalisme di level pendidikan formal. Berkaitan dengan sekolah sebagai lembaga formal yang dapat menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme pada diri peserta didiknya, pemerintah melalui Kemendikbud ( Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) akan menyelenggarakan Assesmen Kompetensi Minimum ( AKM) dan Survei Karakter sebagai pengganti UN. Terkait dengan survei karakter,  program ini sejalan dengan upaya mewujudkan profil pelajar Pancasila.

Penguatan karakter nasionalisme di sekolah, khususnya di jenjang sekolah dasar sebagai pondasi awal  untuk membentuk profil pelajar Pancasila dapat dilakukan dengan tiga cara sebagai berikut. Pertama, muatan nilai-nilai Pancasila wajib diberikan pada semua level pendidikan formal dengan pengaplikasian yang tepat. Kedua, bentuk kegiatan dari penanaman karakter nasionalisme ini   dilakukan melalui  kegiatan intrakurikuler yaitu kegiatan yang dilakukan oleh sekolah secara teratur dan terjadwal, ko kurikuler  yaitu kegiatan penunjang dari intrakurikuler, dan  ekstrakurikuler yaitu kegiatan yang dilaksanakan di luar jam pelajaran biasa. Ke tiga, penguatan nasionalisme dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan budaya populer, seperti tarian, lagu, mengapresiasi film, apresiasi sastra, bermain peran, dan wacana tentang sejarah pahlawan  dijadikan sebagai bacaan wajib.

Sebagai contoh sekolah yang melakukan inovasi-inovasi pendidikan karakter nasionalis adalah SD Harapan Mulia yang berlokasi di Jalan Villa Gardenia kav 21-24, Taman Galaksi, Bekasi Selatan, seperti menempatkan gambar-gambar pahlawan nasional dan ringkasan sejarahnya di tangga  tempat peserta didik moving dari kelas atas menuju koridor bawah, menerapkan kegiatan literasi di awal KBM untuk membaca beragam cerita daerah , tetap melaksanakan upacara bendera secara virtual pada masa PJJ, pembiasaan mengenakan busana daerah dari asal masing-masing peserta didik satu kali dalam sebulan, perayaan hari Kartini dengan mengenakan baju adat nasional, pengenalan budaya wayang dengan menghadirkan dalang ki Nurhadi,  Kegiatan road Sasando dengan melibatkan seniman asli dari NTT, kegiatan ekstrakurikuler yang mengenalkan alat musik angklung pada peserta didik agar mencintai warisan budaya daerah, melakukan pembiasaan sapa dan salam terhadap semua teman yang berbeda suku, etnis dan agama, menghargai perbedaan agama tiap peserta didik dengan ikut memberikan  kesempatan perayaan hari besar agama di sekolah seperti kegiatan Halal bi Halal, buka puasa bersama, pemberian tanda kasih/santunan pada hari Natal, dll.

Implemantasi Pendidikan karakter nasionalis di SD Harapan Mulia yang juga patut ditiru adalah menyisipkan nilai-nilai nasionalisme pada mata pelajaran, misalnya pada pelajaran Penjaskes , guru mengenalkan atlet-atlet daerah yang membawa nama harum negara Indonesia di kancah internasional, pada mata pelajaran bahasa Indonesia, guru mengenalkan indahnya sastra Indonesia , mendongengkan cerita-cerita daerah, mengenalkan puisi, pantun, dan bentuk-bentuk drama tradisional.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa dunia pendidikan dalam hal ini sekolah memiliki peran yang tidak kecil dalam rangka menumbuhkan rasa nasionalisme pada peserta didiknya. Dunia pendidikan di sekolah dalam hal ini sekolah dasar bisa menjadi ujung tombak dalam menanamkan, menumbuhkan, menjaga, dan mempertahankan nilai-nilai nasionalis peserta didik sebagai jati dirinya dari derasnya arus kapitalisme dan globalisasi .

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel