Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta mengumumkan 16 rute baru perluasan aturan ganjil-genap hingga exit tol. Hal ini sedikitnya berpengaruh terhadap mobilisasi warga Bekasi yang bekerja di Jakarta.

Seorang warga Bekasi, Bella Delfira (25), merasa keberatan atas kebijakan ini. Dia menilai aturan perluasan ganjil-genap menyulitkan pekerja Jakarta yang tinggal di Bekasi.

“Susah ya. Ya emang aturan gini (perluasan ganjil-genap) kalau macet-macet berkurang, tapi bikin susah ya karyawan-karyawan yang naik mobil,” ujar Bella kepada detikcom, Rabu (7/8/2019).

“Sangat menyulitkan, gue yang pegawai kantoran aja sulit, gimana yang kerja di luar (ruangan),” tegasnya.

Bella tinggal di Harapan Indah, Kota Bekasi. Ia setiap Senin-Jumat pagi berangkat kerja ke kantornya di Jalan Salemba Raya melewati Jatinegara hingga Matraman. Rute Bella masuk rute baru ganjil-genap.

“Biasanya lewat Jatinegara-Matraman-Salemba. Tadinya nggak kena, sekarang kena (aturan ganjil-genap),” ujar Bella.

Mobil Bella bernomor pelat genap. Jadi ia berencana naik Commuter Line pada hari-hari bertanggal ganjil.

Hal senada diungkapkan Andi Firdaus (34), warga Jatiasih, Bekasi. Andi tak setuju ada perluasan ganjil-genap karena merasa sudah membayar pajak tiap tahun.

“Saya nggak setuju sih, karena nggak adil aja. Saya juga bayar pajak kendaraan saya. Tapi kok malah dibatasi. Saya bayar pajak Rp 4,8 juta per tahun,” tutur Andi saat ditemui di Jalan Ir H Juanda, Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Andi mengaku biasa menuju kantor di Jl Medan Merdeka Utara dengan menumpangi mobilnya yang bernomor pelat genap. Dia berencana naik KRL jika nantinya perluasan ganjil-genap diterapkan.

Sumber : news.detik.com