ArtikelHeadline

4 Nasihat Kerja Ini Tidak Berlaku Bagi Generasi Milenial

INFOBEKASI.CO –¬†Seiring perkembangan zaman, karakter pekerja berubah dan strategi kerja pun berubah. Ada beberapa nasihat tentang karier yang ampuh dijalankan generasi X atau baby boomers, kini dianggap usang bahkan membingungkan oleh generasi Y, yang lebih populer disebut generasi milenial.

Hindari memberikan 4 nasihat berikut, yang sulit mereka terapkan di dunia kerja.

  1. Cobalah untuk setia

Generasi baby boomers dan generasi X menganggap kesetiaan hal penting. Bergonta-ganti pekerjaan tidaklah baik untuk karier, karena mengindikasikan karakter kutu loncat yang tidak setia. Lapangan pekerjaan yang terbatas membuat generasi lama berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan kerja seperti apa pun. Sementara itu Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat, rata-rata pekerja berusia 25-34 tahun bertahan paling lama dua setengah tahun di satu tempat kerja.

Bagi generasi milenial, berganti pekerjaan cara mereka untuk meningkatkan kemampuan, menambah pengalaman, mengembangkan diri, dan mempertinggi nilai diri. Berdiam lama di satu perusahaan bukan karakter pekerja milenial. Mereka tidak takut kehilangan pekerjaan karena menganggap kesempatan kerja selalu terbuka lebar. Pekerjaan yang tidak sesuai hasrat, dipimpin atasan yang tidak satu pemikiran, atau tingkat kepuasan yang rendah membuat para milenial lebih suka bertualang mencari pekerjaan baru.

  1. Fokus ke pekerjaan yang kalian kuasai

Pekerja generasi lama berpendapat, menekuni bidang pekerjaan sesuai kemampuan adalah cara paling tepat menuju sukses. Ketika mereka menekuni satu bidang, mereka akan berusaha menguasai bidang pekerjaan itu sampai menjadi pakar. Namun generasi milenial berkarakter multitasking atau senang melakukan banyak hal sekaligus. Mereka mudah tertarik dan menantang diri dengan hal baru.

Hasil survei situs web informasi karier asal AS, ey.com, menyebut 94 persen milenial senang memaksimalkan kemampuan mereka untuk kepentingan masyarakat. Milenial tidak hanya fokus ke kepentingan karier mereka sendiri namun senang mengeluarkan ide dan membuat terobosan baru yang berguna bagi banyak orang. Sejumlah 70 persen responden menyimpan keinginan untuk membuat perbedaan nyata di tengah masyarakat melalui pekerjaan mereka. Kegagalan perusahaan memahami karakter milenial ini akan menyebabkan potensi terpendam mereka tersia-siakan.

  1. Jangan pulang sebelum atasan

Masih dari survei ey.com, 78 persen milenial memilih pasangan yang sama-sama pekerja dan rata-rata milenial punya anak di usia 26 tahun. Kerry Hannon, pakar karier dan penulis lusinan buku tentang karier asal Pennsylvania, AS, menyebut generasi milenial umumnya dilahirkan dalam keluarga dengan kedua orang tua yang bekerja. Ini sebabnya mereka memahami pentingnya menyeimbangkan kehidupan karier dengan keluarga.

Mereka memilih bekerja efektif ketimbang berlama-lama di kantor agar bisa segera pulang dan bertemu keluarga. Perusahaan yang masih menganut tradisi bawahan tidak boleh pulang mendahului atasan sangat tidak cocok dengan karakter generasi milenial.

  1. Jam kerja panjang = produktif

Pekerja milenial menganggap pola kerja jam 9-5 sudah usang. Media sosial dan keterbukaan informasi membuat mereka suka menjelajah. Tidak heran budaya pelesiran terutama di kalangan milenial sangat tinggi. Menjadi global nomad atau seseorang yang hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain digandrungi.

Tentu saja, mereka tetap harus menghasilkan uang untuk membiayai hidup. Pekerjaan yang fleksibel dan memungkinkan bekerja dari mana saja kini diburu. Hasil studi Universitas Bentley, Boston, AS, menjabarkan 77 persen generasi milenial meyakini bahwa jadwal kerja yang fleksibel membuat mereka lebih produktif. Di samping itu, 67 persen milenial berharap mereka bisa menentukan sendiri waktu untuk memulai dan mengakhiri pekerjaan.

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel